Entri Populer

Minggu, 28 Agustus 2011

KEN AROK BERTOBAT


Setiap saat,secara periodik aku memasuki sebuah situasi jiwa yang sangat tidak menentu dan membuatku merasa sangat kotor. Situasi yang membuatku merasa menjadi manusia paling hina di hadapan Tuhan dan dihadapan sesama manusia.Aku merasa lebih hina dan lebih rendah dibanding para manusia lain yang hidup dalam gelimang dosa.Aku merasa malu dihadapan sesama manusia yang hidupnya dinistakan sebagai pendosa karena tidak berdaya di bawah garis edar nasibnya, tetapi mereka telah mengakui secara jujur dan berterus terang. Kejahatan dan dosa mereka di ketahui umum dan di akui secara gentle dan terbuka bahwa mereka bukan orang baik-baik. Artinya apa?Aku sedang merasa sangat hina.
Aku merasa bahwa sesungguhnya orang lebih respek terhadap perampok yang jelas mengakui dan melakukan perampokan secara kasar dan brutal.Mereka terpaksa merampok orang-orang kaya yang telah secara sangat tidak berperikemanusiaan mempercepat proses pemiskinan mereka.Mereka menjadi rampok karena tidak ada pilihan lain.Mereka adalah korban mekanisme sistem kapitalis yang durjana.Karena ilmu dan keterbatasan ketrampilan hidup yang ada, terpaksa mereka manjadi perampok.Mereka butuh untuk bertahan hidup dan makan seperti manusia lain.Sementara para penganjur kebenaran, para penyampai pesan moral dan agama juga tidak pernah mau peduli dengan hidup mereka selain menistakan dan memberi caci maki bahwa mereka adalah pendosa dan kelak tempatnya di akherat adalah neraka. Kesadaran dan nurani kemanusiaan mereka tidak pernah disentuh cahaya kasih sayang dan cinta.Keperluan hidup mereka paling dasar sekalipun tidak pernah ada yang memikirkan apalagi berkorban untuk menyelamatkan mereka. Jika para penegak moralitas dan agama hanya menyalahkan, lantas kepada siapa mereka akan belajar cahaya kebenaran?
Para ekonom hanya mau memberi ruang beraktivitas jika mereka dapat dieksplorasi dan bernilai sebagai sebuah investasi.Kekayaan yang telah dikuasai oleh para ahli ekonomi itu membuat kelas mereka semakin berbeda dan menyulut api cemburu hingga berkobar membakar segala bentuk suara nurani yang pada dasarnya ada dalam setiap hati.Kemiskinan sistemik itu telah membuat mereka gelap mata dan mengasah pisau, pedang atau kampak untuk sekedar memaksa para orang kaya berbagi.Setelah mendapat hasil rampokan mereka membeli dan  mengisi senjata dengan peluru untuk mempertahankan diri karena para petugas keamanan yang dibayar para ekonom juga membawa senjata dan tidak segan-segan menembak mereka.Akhirnya kegelapan semakin menutup kehidupan mereka dan perilaku mereka semakin profesional, dan karena itu mereka disebut perampok.Mereka masih ada hebatnya karena mereka masih punya kejujuran setidaknya saat mereka beraksi.Mereka akan berkata terus terang,”Berikan semua emas dan uang yang ada!Jangan melawan kami,ini perampokan!Kalau melawan terpaksa kalian kami habisi!” 
Aku merasa orang akan lebih hormat terhadap seorang pelacur yang karena keterpaksaan dan sistem sosial yang melingkupinya memaksanya untuk melacur.Tidak ada pilihan lain dalam hidup mereka selain hal itu.Jika diam mereka akan mati kelaparan.Sementara sistem masyarakat yang melingkupi hidup mereka sama sekali tidak memberi ruang yang memungkinkan bagi mereka untuk memilih.Ilmu mereka tidak cukup untuk bertahan hidup dan berperang dengan ketidakadilan.  Mereka adalah orang-orang yang terpaksa harus terpinggirkan. Mereka memilih jalan hidup yang dianggap keliru karena tekanan kehidupan yang menghimpit mereka. Mereka tidaklah sepenuhnya ada dipihak yang pantas disalahkan, walaupun mereka sudah pasti memiliki andil terhadap kesalahan dan kekeliruan hidup mereka itu.
Sementara bila melihat diriku sendiri, maka sesungguhnya aku merasa sangat malu.Malu karena sesungguhnya akulah manusia yang sangat hina dan tak punya jati diri. Semua yang ada padaku hanyalah dusta dan kebohongan demi kebohongan untuk mengelabui mata manusia lain yang melihatku dengan tatap mata penuh kekaguman. Aku sesungguhnya lebih jahat dari siapapun walaupun tidak ada yang mengetahui dengan pasti bentuk dan laku jahatku. Itu semua terjadi sebab dengan segala kekayaan dan kekuasaan yang ada padaku, semua kebusukan hidupku dapat aku bungkus dengan citra yang baik.Aku telah berhasil membangun image yang sangat indah dan sempurna dimata publik, sehingga biar bagaimanapun orang tetap menghormati diriku baik secara sadar maupun terpaksa. Akulah orang yang berkuasa dan tak terkalahkan.
Kekuasaan dan kekuatan politis yang mengelilingi diriku membuat diriku tak tersentuh oleh aturan-aturan yang berlaku bagi orang lain. Kekayaan  berlimpah yang aku miliki saat ini membuatku bebas berbuat apa saja tanpa ada seorang pun yang bisa mencegah diriku. Para penganjur moral dan agama telah dengan mudahnya ku buat silau dan terpukau. Mereka mandah dan tak berdaya ketika proyek sosial mereka aku topang dengan sebagian kecil harta kekayaanku. Rumah-rumah ibadah yang mereka bangun aku sumbang dengan sedikit tampilan kebaikan dan rasa empati yang kubuat-buat mereka sudah terjebak dalam decak kekaguman. Mereka tidak tahu bahwa niatku yang sesungguhnya adalah untuk memperdaya mereka.Maka, di mana pun ada komunitas yang mendiskusikan moral, akhlak atau apa pun yang sejenis dengan itu selalu membawa-bawa namaku sebagai tokoh yang secara aktif dan pro aktif telah mendukung program kerja mereka.Mereka mengenalku sebagai orang yang baik.
Para ekonom-ekonom yang suka berpidato di berbagai media dan melakukan analisis pasar juga tak berani menyentuh wilayah yang padanya aku bermain. Bagaimana mungkin mereka -para ilmuwan itu- menganalisa perkembangan pasar yang aku kendalikan jika mereka mendapatkan sederet gelar akademik dari luar negeri atas beasiswa yang aku sumbangkan pada mereka?Maka, akhirnya bagaimanapun expertnya mereka dalam bidang keilmuan yang mereka geluti, mulut mereka tetap tak bisa bicara bebas karena telah aku sumbat dengan uang yang telah menjadikan mereka di sebut pakar ekonomi. Bagaimanapun juga, akulah yang menang. Aku memang tak bisa dikalahkan.
Ketika negeri ini geger dan marak ide untuk dilakukan pembersihan terhadap para koruptor, aku secara pro aktif mendukung gejolak itu. Bahkan aku mendirikan lembaga yang secara independen berhak memantau dan mengaudit kekayaan para pejabat negara. Tentu saja lembaga yang kubuat ini segera di setujui oleh para penguasa boneka yang kubuat karena mereka tak mungkin menolak ide dan pemikiranku yang selalu sepuluh langkah di depan politisi-politisi bodoh itu. Dan karena aku yang membentuk lembaga itu maka akupun bebas merdeka dari sentuhan mereka. Lembaga itu boleh saja melakukan sosialisasi dan mengaudit kekayaan orang, organisasi atau apa pun saja yang pantas di curigai sebagai koruptor,namun pasti tidak akan pernah menyentuhku,menyentuh wilayah privacy ku, terkecuali mereka ingin aku bubarkan dan tak bisa memiliki mobil dan rumah mewah serta bingung memenuhi biaya hidup keluarganya. Maka dihadapan siapa pun aku tetap saja menang.
Para penegak hukum yang jujur, gelisah dengan jaring dan tangan-tangan gurita yang telah aku cengkeramkan ke mana-mana. Mereka sering masih kasak-kusuk dan mengancamku.Hanya sebatas itu saja sebab, mereka tak punya kekuatan untuk mengimbangi “kesaktian” yang kumiliki. Ibarat harimau, mereka hanyalah harimau yang sudah dikurung dalam kerangkeng di kebun binatang. Bisa mengaum saja sudah ditepuki dan membuat kagum serta rasa ngeri bagi para pengunjung kebun binatang.Cakar dan gigi tajam mereka sudah tak berfungsi sebab akulah yang mengatur mekanisme datangnya daging ke kandang dan mulut mereka. Maka, sungguh berhadapan dengan siapapun aku tetap menang dan tak tersentuh.
Hari-hari dalam hidupku selalu aku nikmati dengan senyum yang lebar dalam kesendirian di kamarku.Di depan publik aku selalu tampil sebaik mungkin, perilakuku selalu tertata, bahasa tubuhku selalu mengundang simpati, seberapa lebar senyumku saat bertemu orang-orang dalam forum apa sudah kuatur, apa yang harus aku ucapkan untuk sebuah komentar sudah tertata. Aku selalu menjaga image di depan publik. Semua kulakukan demi kemenanganku, demi mengambil simpati masyarakat dan menciptakan kesan kemuliaan. Di hadapan media massa, baik cetak maupun elektronik aku selalu tampil tertata. Akulah sang pendekar sejati yang sudah sangat lama malang melintang di percaturan dunia “persilatan” negeri ini.Hehe,orang-orang bodoh itu selalu saja berhasil aku kelabui dengan ajian “malih rupa” yang aku pelajari dari sejarah jaman purba. Akulah aktor kehidupan yang sangat sempurna dan seharusnya mendapat penghargaan dari para “pemilik” dunia seni dan hiburan di negeri ini.
Namun, bagaimana mungkin mereka, para pemilik dunia seni itu memberiku penghargaan padaku? Sungguh mereka tidak mungkin memberiku penghargaan sebab hidup matinya karya mereka pun hampir sepenuhnya tergantung pada diriku. Setiap ijin pementasan teater, terbitnya tulisan, beredarnya film, musik dan lagu semua ada di bawah kendali modalku. Orang tidak tahu bahwa semua bidang usaha yang berkaitan dengan dunia seni dan hiburan selalu aku awasi dan akulah yang memberi mereka modal. Semua karya yang tidak menguntungkan diriku, yang diam-diam atau secara terbuka mengkritisi sepak terjangku, dapat dipastikan tidak akan berumur lama. Bila perlu, harus ditumpas sekalian dengan yang membuat karya itu, apapun bentuknya. Jadi aku pasti aman dihadapan kelompok ini.Aku memang selalu menang dan tak terkalahkan.
Para petugas keamanan negeri ini juga sepenuhnya berkiblat dan tunduk pada diriku,sebab sebagian besar nafas hidup mereka memang telah ku genggam. Aku memang manusia yang sangat istimewa dan sangat “sakti” tak terkalahkan.Akulah yang berhak menentukan siapa yang harus diamankan, siapa yang harus dibekuk atau ditembak mati. Semua informasi dan instruksi yang kuberikan sudah melalui mekanisme jaringan yang sangat rapi sehingga  aku sama sekali tidak terlibat dalam peristiwa-peristiwa yang sering kali ramai didiskusikan oleh para pakar ilmu sosial,ilmu hukum,ilmu politik dan lain-lain. Dalam situasi seperti itu seringkali justru membuat image diriku semakin baik karena aku ditampilkan sebagai sosok yang memberi solusi sangat bijak.Aku bukan sekedar aktor yang ulung, aku juga seorang sutradara sekaligus penulis skenario yang sangat ahli.Aku merasa takdirku memang harus demikian, semua hal yang terjadi di negeri ini tak bisa lepas dari peranku. Sempurnalah kekuasaanku.
Dalam dunia pendidikan, orang-orang tidak sadar bahwa akulah yang sesungguhnya mengendalikan mereka. Sistem dan mekanisme kerja mereka dari tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi,akulah yang mengendalikan. Anak-anak di tingkat pendidikan dasar harus segera menyelesaikan pendidikannya secara kuantitas agar aku mendapat pujian dan tepuk tangan. Standar kelulusan akulah yang menentukan, berapa angka-angka yang harus mereka capai, yang tertulis di ijasah dan buku raport mereka, akulah yang mengaturnya. Soal bagaimana caranya, terserah para guru mengaturnya. Bila mencapai nilai secara jujur menjadi sebuah kesulitan,maka parag guru harus berbuat sedemikian rupa agar nilai anak-anak didiknya sesuai kemauanku,tak peduli semua nilai itu hasil rekayasa.Sebab yang penting bagiku adalah laporan publik yang disampaikan melalui media massa bagus.Jika yang terjadi sebuah pembodohan bagi generasi bangsa, memang sesungguhnya hal itulah yang aku inginkan.Apakah para guru yang mungkin masih memiliki idelaisme akan menentangku? Aku pastikan tidak, sebab mereka pasti tak berdaya.Hidup mereka akulah yang membiayai.Gaji setiap bulan yang mereka terima adalah sebagian kecil dari modal yang aku investasikan untuk melanggengkan kekuasaanku. Jadi, aku memang satu-satunya tokoh yang berhak mengatur arah dan gerak hidup masyarakat di negeri ini.
Di dunia pendidikan tinggi, semua kegiatan di dalam kampus sesungguhnya juga ada dibawah pengawasan dan kendaliku. Semua mekanisme pengendalian telah kubuat sebagai jaringan yang sangat rapi dan tak kentara bahwa aku berperan di dalamnya. Para profesor, para doktor dan para master dari berbagai disiplin ilmu yang mengajarkan ilmu di kampus-kampus telah aku mandulkan dengan pikiran materialistis yang aku infeksikan pada mereka tanpa mereka sadari. Bagi mereka kubuatkan arena lomba proposal untuk rebutan sebagian kecil harta yang aku siapkan dalam bentuk berbagai proyek yang sering kuberi nama mega proyek. Kepedulian sosial dan pikiran mereka menjadi tumpul manakala para resi dan pendekar itu sibuk berebut harta.Maka, mahasiswa mereka tidak bisa sepenuhnya mewarisi ilmu mereka,bahkan di beberapa tempat banyak mahasiswa yang kehilangan idola dan ikon hidup karena interaksi akademik dengan para pengajar sudah tidak sehat. Dalam kompetisi materi itu, orang sudah sangat serakah dan cenderung menghalalkan segala cara demi mencapai kemewahan-kemewahan sesaat yang penuh gebyar. Jadi, di hadapan para resi cerdik cendekia pun,aku tetap menang sebab mereka telah masuk dalam jaring yang aku tebar. Mereka tidak lagi lincah dan bebas berenang sebab sudah masuk dalam perangkapku. Di antara mereka justru banyak yang sibuk untuk berebut ruang dan peluang, semua itu akulah yang mengendalikan. Mereka ramai berebut kue kecil yang aku sediakan, yang terlihat cuma-cuma tetapi sesungguhnya adalah investasi bagiku untuk melanggengkan kekuasaanku.Tak ada sesuatu pun yang kubagi secara gratis.Akulah ekonom yang sejati karena aku selalu berpikir sepuluh langkah di depan mereka semua yang bodoh itu.Hehe, mereka tidak tahu aku dan aku tahu mereka,itulah sebabnya aku selalu berhasil menguasai mereka.
Para mahasiswa sudah tidak punya daya kritis lagi sebab mereka tidak megalami proses pembelajaran yang benar. Mulai dari tingkat pendidikan dasar,jiwa mereka tidak pernah dikembangkan, pikiran mereka telah ditumpulkan,semangat juang dan idealisme mereka sudah di padamkan. Mereka adalah produk proses pendidikan instan yang tidak peduli pada proses belajar, entah bagaimana caranya tahu-tahu mereka naik kelas, tahu-tahu mereka lulus SD,SMP dan SMA. Selanjutnya mereka tumbuh menjadi tua tanpa kedewasaan sikap dan perilaku. Kemauan mereka tidak diikuti oleh kemampuan yang memadai dalam tata pikir dan daya nalar.Hal-hal yang mereka saksikan dalam kehidupan nyata tidak ada yang dapat dijadikan teladan.Yang terlihat hanyalah ukuran-ukuran hidup sangat nisbi, tanpa nilai-nilai kemanusiaan sebab sangat banyak tatanan budaya dan agama sudah tergusur.  Saat menjadi mahasiswa, jadilah mereka mahasiswa yang pragmatis, hedonis dan sangat materialistis.Kebanyakan mereka tak lagi punya kemandirian dan sikap yang baik dalam kehidupan. Semuanya belajaar demi selembar ijasah dan gelar dengan harapan setelah memilikinya dapat untuk mencari pekerjaan yang menghasilkan kemakmuran secara materi. Daya kritis dan kreativitas telah hilang, sehingga ketika selesai pendidikan mereka bingung mencari pekerjaan, maka menumpuklah jumlah pengangguran.Maka, dengan menumpuknya pengangguran aku semakin berkuasa, mereka semua adalah para calon kuli di perusahaanku yang semakin besar. Karena posisi tawar mereka yang rendah,aku bebas menentukan berapa bayaran yang layak untuk mereka.Aku memang penguasa yang sangat “sakti”, apa pun yang menjadi keinginanku sangat mudah aku mencapainya.
Segala yang ingin kumiliki rasanya dengan sangat mudah aku dapatkan. Kekayaan,kekuasaan dan kepuasan-kepuasan se-saat hampir semuanya telah kunikmati. Perjalanan ke negeri-negeri lain telah kulakukan,hampir seluruh bumi ini telah aku injak karena ke manapun aku ingin melakukan perjalanan,pasti aku lakukan. Istana raja-raja,tempat-tempat hiburan, temapt-tempat agama dan spiritual dari berbagai agama, bertemu dengan para penguasa dari berbagai bangsa, sudah aku lakukan. Bahkan bercinta dengan segala tipe dan variasi manusia dari belahan benua-benua di bumi ini pun sudah aku lakukan.Makan segala jenis makanan dari berbagai budaya bangsa-bangsa yang dikenal di bumi,sudah pula kulakukan.
Kadang aku bertanya sendiri, apa yang belum aku lakukan? Membuat bahagia istri? Kurasa tak ada satupun kemauan istriku yang belum aku turutkan, semua yang istriku inginkan sudah aku penuhi,karena hartaku sangat berlimpah. Bahkan ketika dia tahu aku bercinta dengan wanita lain kemudian dia marah dan menuntut melakukan hal yang sama,aku pun mengijinkan,dengan catatan jangan sampai diketahui oleh publik demi menjaga image sebagai pasangan hidup yang pantas di teladani oleh masyarakat umum. Maka setiap ada lelaki yang selese bertugas memenuhi keinginan gila istriku, biasanya aku menyuruh orang lain untuk menghabisinya secara diam-diam.Itu semua aku lakukan dengan cara yang sangat rapi dan tidak kentara serta tentu saja tanganku tetap bersih dari noda darah. Aku dan istriku sudah sama-sama gila.Demi menikmati rasa berkuasa, kami melakukan hal-hal yang tak bisa dimasukan dalam logika manusia. Kami sudah lebih gila dari balada cinta Ken Arok dan Ken Dedes. Walaupun memang sebagai wanita, istriku lebih “nareswari” dibanding legenda Ken Dedes.Bersamanyalah aku meraih segala kuasa dan kekayaan yang kini kumiliki.Kadang aku percaya bahwa aku memang sosok Ken Arok yang lahir kembali bersama Dedes untuk menguasai negeri ini. Jiwa kami lahir kembali setelah kurang lebih seribu tahun yang lalu kematian tragis dikeris empu Gandring mengakhiri hidup kami. Orang-orang melupakan sejarah bahwa sesungguhnya Ken Dedes pun mati tertusuk oleh keris yang sudah di sumpahi oleh empu Gandring. Memang luka Dedes hanya sedikit tergores di tangan kanannya saat Anusapati di bunuh Toh Jaya adik tirinya. Luka kecil itu selanjutnya mengalami infeksi dan Dedes mati karena sakit akibat goresan keris itu. Orang lain pasti tidak tahu hal ini karena tidak ada kisah Dedes ditusuk keris empu Gandring yang dikisahkan sebelumnya dalam sejarah manapun.Ini adalah sejarah menurut pengalaman Clairvoyant ku terhadap masa lalu ketika bertemu dan meditasi bersama pendeta di Tibet saat aku bertemu Dalai Lama. Karena pada kelahiran saat ini, dalam jiwa istriku Dedes bercampur dengan Dewi Durga, maka kesaktian istri dan sekaligus kejahatannya menjadi sangat sulit untuk dikalahkan.Hmmm,aku jadi ngelantur ke mana-mana.
Aku harus kembali memikirkan diri sendiri. Aku harus menemukan sesuatu yang penting dalam diri sendiri dibalik semua topeng dan kepalsuan yang telah aku banggakan selama ini. Sebab rasanya tak ada lagi yang harus aku pikirkan dengan lebih serius selain diriku sendiri. Seandainya harus kupikirkan anak-anakku, aku sudah tak terlalu memusingkannya.Mereka hidup tanpa sedkitpun kekurangan fasilitas,apapun yang mereka lakukan untuk mencari kesenangan hidup pasti terpenuhi.Tidak ada satupun yang mampu menghalangi apa yang anak-anakku inginkan. Jangankan anak dan istri,bahkan seluruh keluarga besarku pun sudah aku makmurkan. Akulah sang penguasa yang sangat besar, “sakti” dan tak tertandingi. Jadi apa lagi yang akan aku cari? Pertanyaan seperti itu, akhir-akhir ini sering mengganggu pikiranku. Di saat semua sudah kumiliki, ternyata aku merasa sangat hampa. Semua kejayaan yang ku raih hanyalah semu dan tak bermakna,aku sudah sangat jenuh, bosan dan lelah. Aku dihantui oleh rasa bersalah yang teramat parah.
Rasa bersalah dan gelisah merongrong jiwa dan membuatku tidak bisa menikmati istirahat malam dengan nyenyak.Tiba-tiba aku terjaga dan tak bisa tidur lagi. Seperti di kejar-kejar oleh sesuatu yang tidak aku ketahui bentuknya.Di kejar ketakutan yang tidak jelas.Teror.Aku terteror oleh kontradiksi yang aku hadapi. Sungguh sangat tidak nyaman dan menghilangkan rasa tentram. Ini pasti karena aku adalah seorang pendosa. Ya, akulah sang pendosa yang sesungguhnya.Tubuhku kini semakin renta dan lemah. Rasanya aku tak bisa lagi memainkan peranku dengan baik saat ini. Pikiranku tak lagi cerdas dan penuh kelicikan seperti 10-15 tahun lalu. Aku merasa sangat menyesali apa yang telah kulakukan selama ini. Aku memang berhasil membodohi segala lapisan masyarakat di sekitarku, menguasai dan mengeksplorasi mereka demi kekuasaanku, tetapi saat ini,saat aku sudah lemah dan renta, semua itu terasa tak ada artinya.Aku merasa malu melihat sepak terjangku di masa lalu. Aku menyesal dan hanya bisa menebus kesalahan-kesalahan itu dengan waktu yang sangat sedikit di sisa hidupku.Aku merasa hidupku akan segera berakhir.
Rasa yang teramat menyiksaku itu kembali datang.Kusebut kembali karena setelah aku cermati, hampir setiap tahun rasa seperti ini hadir secara periodik. “Ya Tuhan, ampunilah hambaMu yang lemah ini.”Hanya doa sederhana ini yang agak sedikit menolongku dari beratnya beban jiwa. Sebab aku tak pernah belajar doa yang lain selain ide-ide dan pikiran jahat untuk melanggengkan kekuasaanku yang aku kangkangi dengan segala kerakusan dan keserakahanku. Dan aku tak pernah tahu, apakah pertobatan ini di terima atau tidak, yang jelas aku sudah merasa sangat lelah memainkan peranku sebagai manusia yang penuh dengan kebusukan namun mendapat legitimasi sebagai orang baik, berjasa dan sering di sebut sebagai pahlawan. Aku berharap setelah kematianku, ada penulis sejarah yang menemukan catatn harianku ini dan merevisi cara pandang mereka terhadap kedirianku dan membersihkan namaku dari label-label kehormatan palsu. Sebab sesungguhnya akulah orang yang telah paling banyak merusak bangsa ini. Semoga pula semua orang mampu dan mau memaafkan diriku,keluargaku,istri dan anak-anakku. Di lembar-lembar ini, telah kutuliskan pengakuanku dengan jujur bahwa sesungguhnya aku tak lebih baik dari seorang bangsat atau bajingan yang tak tahu etika.Aku berharap,rahasia ini, yang kutulis disini dapat menjadi jalan bagiku untuk mendapatkan ampunan Tuhan dan menginspirasi orang-orang setelahku untuk berbuat yang baik dengan sebenar-benarnya. Jangan pernah mengikuti jejak langkahku yang salah persepsi terhadap amanah berupa kekuasaan yang kumilki dengan merasa sebagai reinkarnasi Ken Arok.
Mungkin kematianku sudah semakin dekat. Tubuhku semakin lemah dan renta. Rasa yang teramat menyiksaku itu kembali datang.Kusebut kembali karena setelah aku cermati, hampir setiap hari rasa seperti ini hadir secara periodik. “Ya Tuhan, ampunilah hambaMu yang lemah ini.”Hanya doa sederhana ini yang agak sedikit menolongku dari beratnya beban jiwa. Sebab aku tak pernah belajar doa yang lain selain ide-ide dan pikiran jahat untuk melanggengkan kekuasaanku yang aku kangkangi dengan segala kerakusan dan keserakahanku.”Ya Tuhan, terimalah hambaMu kembali ke haribaanMu dengan tenang jika memang telah Engkau kehendaki.Dengan segala penyesalan,hamba siap menerima hukuman yang Engkau sediakan untuk hamba di alam kematian dan sesudahnya. Semoga ada sedikit kebaikan bulan suci ini yang memercik ke hati hamba dan membenarkan pertobatan hamba yang lemah ini.Amien.”
Dari catatan harian  seorang penguasa
Akhir agustus 2011
                                  

Senin, 27 Juni 2011

MBAK WULAN


Urip ning daerah terpencil pancen akeh tantangane, apamaning tumrap inyong sakeloron, pasangan anyar sing esih kurang pengalaman.Ningen,inyong wis serembug wong loro supaya siap ngadhepi masalah apa bae.Inyong kambi Wulan wis nekad nyawiji, nglakoni urip brayan dadi wong bebojoan.Wis mantep arep nglakoni wektu-wektu sing esih ana bareng-bareng delambari rasa tresna lan kasihsayang.
Masalah pegawean dadi  salah sijine tantangan ning antarane  tantangan-tantangan liyane.  Sekolah nggonku mulang kue sekolah SMA sing esih  sederhana nemen. Sebagian pagere  esih ana sing digawe karo blabag, malah ruang gudange tah pagere babiran kayu alas ora di serut acan. Nek dibandingna kambi anggaran sing arep nggo gawe rehab gedung Dewan ning Jakarta, jan dadi krasa nlangsani ra etung.Tenaga pengajar kur ana wong sanga wis klebu  Kepala Sekolah. Kahanan sing kaya kiye wis mesti  banget  kurange nek dibandingna kambi  jumlah murid sing jumlahe  rongatus kurang semendhing. Untunge, senajan fasilitas  esih akeh kurange,  guru-gurune  tetep gelem usaha mulang sing bener. Para guru pada total ngwehna tenaga karo pikirane, supaya murid-murid pada pinter, uga olih pengalaman pasinaon sing paling apik. Semangate murid-murid  semono uga, ora tau nglempreh utawa kendhor. Malah bocah-bocah SMA kiye golih sinau banene keton temenanan tur mungseng. Murid-murid ning SMA kiye bener-bener generasi muda sing “haus pengetahuan”, butuh bimbingan lan bombongan sekang para guru.
Kenyataan kaya kue dadi pemicu semangat pengabdianku. Inyong esih kemutan weling lan ular-ular sekang dosen favorite inyong lagi jaman kuliah. Pak dosen ngendika, jere nek wis dadi  sarjana pendidikan, inyong kudu melu duwe tanggungjawab moral maring proses pendidikan ning negara kiye.Sebab jumlah sarjana ning Indonesia kue esih semendhing. Sarjana kue klebu wong Indonesia sing untung lan pinilih. Mungkin pikiran kaya kue terlalu idealis utawa mungkin malah kelebu utopis tumrape wong liya. Inyong ora peduli karo penilean sing wong liya. Obsesine  inyong kawit jamane kuliah  ya kue bisa terlibat  langsung, senajan kur melu mikir, paling ora urun rembug bab  pendidikan ning negara kiye. Syukur bage bisa melu ngurusi ubeng ingere pendidikan, senajan cilik-cilikan. Asline inyong dewek ya sok pengin ngguyu karo pikiran kaya kue. Kadhang  sok  krasa kaya paribasan kegedhen ampyak kurang cagak. Kementhus pengin melu mikirna ubeng ingere pendidikan kaya iya-iya-a. Kader kur rakyat jelata koh geleme mikirna bab sing masalahe ruwet tur bundhet. Kayong ora ngaca,ora ngukur drajat karo pangkate dewek. Tapi ya ora papa,wong mikir karo duwe kepenginan apik tah kayane dudu dosa ikih.
Inyong rumangsa begja ketemu Wulan, prawan sing gelem dadi bojokku. Deweke uga demen ngadhepi tantangan urip sing kaya kiye, emong milih urip sing biasa-biasa baen. Ndilalah inyong karo Wulan jan sepaham, klop kaya ana injene sing ngancing rasa. Pada bae duwe penganggep nek dadi guru ning daerah terpencil kue  ngamale sarjana pendidikan sing nyata. Kayane tah merga esih pada bae enom dadi idealisme sing kaya kue krasa mantep tur kenceng mantheng ning njero dada. Pengarep-arepe inyong, moga-moga bae rasa luhur sing kaya kiye bisa terus ana anjog inyong tuwa mbesuk. Sebab nek gelem nggatekna, kenyataane wong urip, sering-seringe idealisme lan cita-cita luhur luntur digaglag karo bethara kala, alias ilang bareng karo gesere wektu. Ati kayonge tah dadi tentrem ndean  angger bisa nglakoni urip  selaras karo kepenginan sing arane cita-cita utawa idealisme nganti tekan tuwa,tekan mangsane mati. Inyong dewek ora patia yakin, bisa apa ora.
 Sebab pada dene sarjana pendidikan, Wulan uga duwe hak mulang ning SMA. Ningen Wulan ora nggunakna hak-e, deweke ngajukna  permohonan alih tugas” mulang SMP bae. Awal-awale si inyong kurang setuju karo karepe Wulan, nalika durung mudheng alesane apa ndadak pengin mulang ning SMP.Cempuleke ana  alesan loro sing marakna  Wulan milih mulang SMP. Alesan sing nomer siji sebab  SMP kiye pancen  kekurangan guru, alesan nomer lorone sebab gedung sekolah SMP kiye pedhek sekang umah kontrakan inyong sekeloron. Wulan pengin profesine dadi guru tetep  selaras kambi fungsine dadi bojo lan biyung ning umah. Jere wong-wong pinter, menungsa wadon kue disebut per-empu-an, tegesi nduweni tugas luhur kayadene empu. Empu sing aran biyung kue sing ngarahna lan mbentuk jiwane anak. Biyung kue wajib mulang muruk anake supaya bisa dadi menungsa sing bener uripe lan ana gunane tumrap sepada-pada. Nah, jaman mengko wis akeh wong wadon sing kelalen karo tugas mulya kiye. Merga dadi “wanita karir” kelalen maring fitrah-e sing sejati. Wulan ora gelem kelangan  sipat ke-empu-an-e merga uripe  sibuk ngudag-udag moncere karir pegawean thok. Pancen bener urip kudu ana tegese, tapi aja nganti ninggalna fitrah sing utama.Salah sijine fitrah utamane wong wadon sing ora bisa diwakili ding sapa bae ya kue tugas reproduksi, ujare Wulan kaya kue.
Bareng karo gesere waktu sinng terus mlaku, Wulan bener-bener dadi kanca tumrap uripku. Istilahe wong wetanan Wulan wis dadi “garwo”, jarwa dhosoke  sigaraning nyowo”. Nyawane inyong kambi Wulan persasat separo edhang. Wulan kue kayadene urub-urub sing marakna tungku semangat uripku anget banjur murub dadi geni gairah. Kadhang-kadhang deweke kaya wit gede ijo royo-royo sing marakna suasana dadi iyub lan adhem tekan njero jiwane inyong. Nglakoni urip bareng Wulan, kabeh sanggane wong urip dadi krasa entheng. Inyong ora tau pedhot ngaturna syukur maring ngarsane Gusti Allah sing wis paring bojo kaya Wulan. Bojo sing dadi sorog nggo mbukak lawang gudhang rasa begja mulya. Bojo sing bisa nentremna ati nggronjal, bisa ngademna utek sing sok krasa panas.
Saben esuk, inyong  kambi Wulan  mesti ajeg  sarapan bareng. Wulan ajeg nyediakna sarapan lan ora tau klalen eseme sing manis mesti katon ning lambene sing tipis. Esem sing marakna inyong tambah demen, tambah tresna maring deweke. Lan maninge, Wulan jebule ya jegos masak, panganan olahane enak. Sedurunge inyong jan belih ngira babar blas. Meh kabeh kanca guru sing tau mampir umahku lan disuguh  mangan awan, pada ngendika nek masakane Wulan, bojoku, pancen mirasa tur sedhep. Inyong dadi tambah demen lan bangga maring Wulan. Rasa syukure inyong kayong ora nana watese. Kabeh kegiatan kue bisa dilakoni Wulan sebab sekolah SMP nggone Wulan mulang pancen jarake belih adoh sing umah kontrakane inyong.
Ana maning bab liya sing cukup mbekas ning ati, akibat pilihane Wulan mulang SMP. Rasa puas  ning batin sing regane ora bisa diukur nganggo duwit. Rasa sing hubungane karo profesine inyong sekeloron minangka guru. Wulan kue jebule uga guru sing di demeni, ditresnani lan dihormati murid-muride. Murid-murid bojoku uga dadi muridku sebab pada nglanjutna maring SMA. Inyong sekeloron dadi tambah juwet karo murid-murid. Komunikasi kambi orangtua murid dadi lewih intens. Ruang silaturahmine inyong sekeloron dadi tambah amba. Senajan urip  ning perantoan inyong ora tau krasa kumprung, sepi merga adoh kambi sanak sedulur.Sedulure inyong ning paran kene ya jan akeh. Alhamdulillah. Komunikasi sing apik kambi wong tua murid nyatane nambahi wawasan inyong. Inyong sinau akeh  maring para wali murid bab-bab sing ora pernah dirembug ning bangku kuliah. Inyong dadi lewih paham liku-liku penguripane menungsa ning alam nyata. Merga inyong kue  pasangan anyar, rumah tangga durung suwe, dadi butuh banget informasi.  Kawruh lan pengerten sing praktis masalah rumah tangga mesti bae banget migunani tumrap inyong kambi Wulan. Malah ana wong tuwa murid, sing wis inyong  anggep kayadene wong tuwane dewek.Nggo ngganteni wong tua inyong sing adoh ning Pulau Jawa.
***
Rong tahun setengah inyong urip ning kene, tegese wis ngancik tahun ke-telu inyong urip brayan bebojoan kambi Wulan. Wis ora bisa di etung lakon-lakon endah lan nyenengi tek liwati bareng kambi Wulan. Wis ping ewonan inyong karo Wulan nyecep lan ngombe tetes-tetes keringet sing nggawa aroma sewerga. Senajan Gusti Allah durung maringi momongan maring inyong sekeloron,bab kue ora ngurangi kebegjane inyong umah-umah kambi Wulan. Inyong kambi Wulan pada-pada sadar nek anak kue masalah nugraha sing Gusti Allah. Nek tekan dina-dina kiye durung deparingi momongan, mungkin sebabe inyong durung mampu mikul tanggungjawab dadi bapa-biyung. Cara sekiyene,inyong berusaha “postif thingking” maring kersane Gusti Sing Mahakuasa, sing nguasani uripe menungsa.
Wengi kiye wengi ulang tahun perkawinan ke telu. Wengi sing tek liwati kambi Wulan kebek rasa  syukur lan donga. Senajan swasana banget sederhana, jiwane inyong kambi Wulan  krasa kungkum ning semudra kebegjan sing banyune bening intring nganti keton biru ngeram-erami. Srawung sing kebek pengerten lan rasa tresnane wong mbojo tek lakoni penuh gairah lan sempurna.Jen,temenan, urip karo Wulan sejerone telung tahun kiye dadi  sumber kenikmatan sing  tansah inyong syukuri. Rasa tresna wis njiret jiwane inyong kambi Wulan, dadi  kekuatan sing kukuh ora bisa di oyag-oyag ding ombak utawa angin gedhe. 
Esuk umun-umun, inyong ngwenehi Wulan hadiah sederhana. Hadiah gelang emas kue tek wehna sedurunge mangkat mulang, wis mesthi tek tambah dekepan mesra karo  kecupan penuh kasih ning bathuke Wulan, bojo sing banget tek tresnani. Inyong ora ngomong apa-apa,sekecap bae ora.Mung mripate Wulan tek deleng nganti tembus anjog telenge ati. Senajan ora ngomong apa-apa, inyong krasa banget ana getere jiwa sing interferensi sebab frekuensine pada, banjur nuwuhna harmoni sing angel dicritakna nganggo tembung lan ukara. Getere  jiwa sing nyawiji dadi siji kue mabur, mumbul maring langit bareng kambi rasa syukure inyong sekeloron, wis deparingi rejeki lan pirang-pirang kenikmatan urip ding Gusti Allah.
***
Inyong nampa surat loro, sing isine marakna perasaan dadi nggronjal ora karuan.Kebegyanku wengi wingi karo esuk mau dadi krasa ilang. Surat loro mau  dikirim ding wong loro sing penting tumrap uripku. Surat sijine sing biyungku lan sing sijine dikirim ding bapane Wulan. Surat loro kue isine cerita sing ora nyenengna atiku. Surat-surat kue ora nggawe bombong tapi nggawe bombing lan bingung  ning ati.
Biyungku nakokna bab  kapan kelakone duwe putu. Inyong ngerasa ora bisa njawab.Kudu njawab apa,wong nyatanw Wulan nganti sekiye durung ana tandha-tandha ngandhut,senajan wis srawung karo inyong telung tahun lawase. Inyong dadi susah, aja-aja ana sing ora beres ning masalah reproduksine inyong utawa Wulan. Surate bapane Wulan, bapa mertua inyong, lewih gawe resah. Bapa mertua ngwehi hadiah ulang tahun pernikahan. Apa sing dilakokna bapa  mertua inyong jan bener-bener nyinggung perasaan lan harga dirine inyong  sebagai wong lanang. Inyong  ngerasa dadaku kaya dekilani ding bapane Wulan. Matane inyong pedes, perih maca tulisan ning surat sing bapane Wulan. Ati rasane persasat deiris-iris maca ukara-ukara ning surat  sing dikirim bapa mertua.
Inyong sadar, senajan wis telung tahun dadi mantu, bapane Wulan durung sepenuhe nampa inyong. Ganu, bapane Wulan pancen kurang setuju Wulan milih inyong sebab pegawean inyong kur guru. Bapane  Wulan mikire inyong ora bakalan bisa nggawe bungah anake wadon. Menungsa bungah utawa susah sajeroning uripe, pancen ora ditentukna ding duit. Ningen, nek ora duwe duit babar pisan, menungsa uga arepan nemukna penderitaan sing ora semendhing. Sebab  jaman sekiye, kenyataane kabeh kebutuhane wong urip kudu dipenuhi, carane sing umum, ajege kudu dituku nganggo duit. Nah, pikiran kaya kue esih ana tekan dina kiye, nalika inyong wis telung tahun dadi mantune. Apa mungkin Wulan ngrasakna kebungahaning urip nek lakine kur guru? Guru kan pegawe sing gajine ora akeh  nek ora olih disebut sepethit. Penguripane guru kudu sederhana lan bersahaja nek ora patut disebut kecingkrangan alias kere.Ning surat D kue, bapa mertua inyong nulis kaya kiye :
Anakku, Bapak duwe hadiah  ulang tahun pernikahan nggo kowe sekalian. Pada balik maring Jawa bae. Kowe sekeloron ora  perlu bersusah-susah ning kene. Bapak uga wis nyediakna umah siji gari manggoni ning komplek  perumahan daerah sebelah kidul kotane dewek. Pancen dudu umah mewah, ningen bapa yakin mesti lewih layak huni tinimbang umahmu ning kene. Duit nggo tuku  tiket pesawat wis bapak kirim liwat POS meh bareng kambi surat kiye.Gagiyan balik nek duite wis ditampa yah. Bapak ya wis  menghubungi seorang kolega, pejabat berpengaruh ning Kabupaten.Bapak yakin bisa mbantu kowe sekeloron pindah maring Jawa, tepate maring kotane dewek. Bapak pengin weruh kowe pada urip sing enak kepenak, bahagia lahir lan batin.”
Ora tek terusna maning maca surat kue. Atiku dadi kemropok kaya banyu deindel.Rasane semromong panas teka rai. Mataku pedes kayong arep mrebes mili. Inyong bener-bener tersinggung maca surat kue. Embuhh ngimpi apa inyong mau mbengi. Esuk kaya kiye wis ana loro   masalah abot sing nekani ati lan pikirane inyong. Surat sing biyungku karo bapa mertua pada bae gawe ati dadi gronjalan banjur gelisah sing ora karuan juntrungane.
Dina kiye wis telung dina, inyong nyimpen rahasia bab surat loro sing tek tampa. Inyong urung crita maring Wulan, ning umah inyong apen-apen ora nana apa-apa. Senajan nyatane tah atine inyong polar-paleran ora karuan. Inyong paham lan ngerti sing wis uwis Wulan  bisa bersikap dewasa ngadepi persoalan apa bae,ningen sekiye  inyong mandan mangmang arep crita, kewatir mbok menawa Wulan ora kaya biasane. Inyong ragu dewek. Inyong bisa mbayangna priwe  perasaane Wulan nek ngerti  isine surat sing biyungku. Inyong tah emoh Wulan dadi sedih sebab pertakonane si biyung bab kapan duwe putu. Praene wong wadon loro sing pada-pad tek tresnani gentenan ngisi angen-angenku. Inyong emoh nek salah sijine dadi susah lan kuciwa. Sebab wong wadon loro kiye,biyung karo bojoku sing banget berhargane mungguhing uripku. Inyong  bingung ora etung priwe carane njawab surate si biyung. Pikiran inyong dadi kalut.Uthek kayong jendhel mandeg ora kena di jak mikir.
Inyong lewih ora ngerti kudu kepriwe sikape maring surat sing bapake Wulan, bapak mertuaku. Angel banget rasane nek kudu nyritakna masalah kiye maring  Wulan. Inyong wedi lan khawatir, campur perasaan tersinggung. Inyong wedi  Wulan nampa anjurane bapake terus balik maring tanah Jawa. Inyong khawatir ditinggal lunga ding Wulan. Jane si ya bisa bae inyong melu balik, menikmati fasilitas sing disediani ding mertua ning Jawa. Ningen, ning endi nggone harga diriku dadi cah lanang? Kabeh wong ngerti nek wong lanang kue guru laki sing kudu tanggungjawab maring bojo.Kudu bisa ngayani,ngayomi lan ngayemi.Apa nggane inyong arep selak sing kewajiban? Ora. Inyong ora sudi gawe lakon sing kaya kue.Inyong emoh dadi wong lanang, mantu sing terhina sebab ora mandiri. Permasalahane sekiye, bisa apa ora Wulan memahami perasaan inyong? Apa ilok  Wulan ngerti nek ati inyong galo? Inyong ora ngerti . Inyong serba salah, meneng dewekan rasane wis ora kuat. Pengin ngomong maring Wulan bingung mulaine sing endi.
Inyong dadi ora semangat goli mulang dina kiye.Murid-murid tek wenehi  tugas kon nggarap soal. Inyong kur najagong ning kursi meja guru, meneng nglegeg ngrenungi masalah inyong. Bel istirahat moni, inyong mlaku  nuju maring ruang guru. Tek buka terus tek waca maning surat-surat sing tek tampa mau. Angen-angenku nerawang adoh, mbayangna Wulan bojoku. Mungkin inyong kudu cerita kabeh maring Wulan.Cerita sejujur-jujure, apa anane. Wulan bisa maklum maring pertakonane biyungku. Inyong ya yakin Wulan mesti lewih mencintai profesine. Wulan prawan sing idealis lan setia. Wulan ngerti nek uripe, tenaga lan kemampuanne lewih dibutuhna ning kene. Inyong uga ngrasa bisa mesthekna yen Wulan trena maring inyong –suamine-- senajan urip ning kene pas-pasan. Wulan bahagia urip karo inyong, kabeh  persangka lan penganggepe bapake  Wulan salah. Bapake Wulan ora kenal sipa Wulan senajan anake dewek. Inyong,ya inyong sing lewih ngenal karo paham Wulan kue pribadi sing kaya ngapa.
 Ningen, bener ora yah kabeh keyakinan inyong sing kaya kiye? Kepriwe nek jebule kaabeh mau ora bener?Kepriwe nek sikape Wulan wis malik rupa ora kaya wingi?Apa inyong kudu crita rahasia ati kiye sekabehane maring Wulan?  Ora. Rasane ora mungkin.Jorna baen kabeh masalah kiye dadi  rahasiane inyong. Wulan ora kena ngerti. Aja nganti ngerti. Ningen, tekan kapan inyong mampu nahan? Apa nggane inyong kudu ngapusi awake dewek, mengingkari kenyataan sing tek rasakna? Terus, priwe carane, sing ngendi inyong golih miwiti crita? Perasaan inyong jan ora karuan nemen. Ragu, bingung, lan kecewa ngumbuk dadi siji. Dada rasane kebek,ati dadi sumpek nganti  ndudut ambekan bae kayong angel.Sesek.
Dadi wong lanang inyong sadar kur bisa nawakaken urip sing sederhana maring Wulan nek ora olih disebut sengsara. Apa Wulan gelem terima? Ora nana salahe apa sing ana ning  pikirane bapake Wulan. Kabeh bapak mesti pengin weruh anake urip begya,mulya sejahtera. Njur  biyungku? Biyung inyong uga kurang nyadari sapa inyong kiye. Inyong kiye  kur guru. Kepriwe kon inyong bisa mikir duwe  anak, nek mbesuke anak-anake kudu nglakoni urip sing sengsara? Anak-anak inyong kudu tumbuh bareng karo kemiskinan? Anak-anak inyong ora bisa tuku klambi sing apik,  ora bisa tuku dolanan lan ora bisa mbayar  beaya sekolah? Rasa ragu-ragu sing paling gede kue muncul ning njero  pikiran inyong, wujude pertakonan,” Apa ilok patut enggane  anak-anak inyong  dadi putune wong sugih lan kinurmat kaya  bapake Wulan?”Lah beda status ekonomi lan sosial antarane inyong karo Wulan kayong kaya bumi- langit,adoh ora etung. Inyong dadi ora percaya diri.
Pertakonan akeh banget pating sliwer ning angen-angenku.Marakna sirahe inyong dadi krasa abot njur nggleyeng.Intine ana rasa ragu-ragu ning ati sebab inyong ora percaya diri.Kayong angel merealisasikan harapan bisa terus urip bareng Wulan sebab inyong pegaweane kur guru. Kabeh wong wis paham nek guru dudu profesi sing bayare akeh. Jan, akhire inyong bener-bener ora ngerti kudu kepriwe ngadepi kahanan sing kaya kiye. Senajan inyong bangga lan cinta kambi profesi, kenyataanne inyong tetep kur guru. Guru, secara finansial esih tetep dudu profesi sing patut dibanggakna. Penguripane guru sekiye  identik karo kemiskinan. Ana pengarep-arep tipis moga-moga ngesuk-ngemben nasibe para guru kabeh ning babagan keuangan bisa lewih apik timbang sekiye.
Pengin njajal maning nulis surat. Inyong dadi kebingungen dewek, ora bisa milih tembung.Ana tembung pating klebat  tapi inyong gagal nggandheng dadi ukara. Ping kopang kaping kertas  tek genti, ora nana  selembar acan surat sing dadi. Salah-salah bae, rasane kayong kurang pas. Wis mbuh pirang lembar kertas wis tek kruwes-kruwes.Inyong nganti  kesel. Semangate inyong  cunthel. Tangane krasa kayong kaku lan pegel. Inyong nglemesna,tek obah-obahna tangan tengene inyong. Apes. Pucuk jenthik tengahe inyong  nyenggol botol ning pojokan meja. Isine wutah. Mangsi ireng nyiram kertas. Nyiram buku.Mblobor. Inyong dadi kaget tangi sing jagat  lamunan.Gagiyanan tek bersihna mangsi ireng sing mili ning meja putih kue. Inyong kamitenggengen,nglegeg sebab ana rasa getun lan cuwa. Kabeh  tulisan ning kertas surat kue dadi ireng, kabur ora bisa diwaca. Inyong ora sida nulis surat. Ora sida sekiye,  mungkin lewih apik wektu liya bae.
Ana beban abot ngganjel ning atiku. Pengin tek omongna blak-blakan tapi inyong wedi mbok Wulan dadi ora bombong. Inyong ngerasa dadi wong asing tumrap awake dewek. Inyong wis belih ngerti. Inyong ora mudheng. Inyong bodo. Dungu. Gronjalan ning atine inyong  sengsaya ndadi. Perasaan inyong tambah ora karuan. Tek jukut salah sijine kertas sing mau tek kruwes-kruwes.Tek waca maning tulisan sing wis ora jelas merga kesiram mangsi ireng sing mblobor.Inyong kemudu-kudu ngguyu. Inyong ngguyu awake dewek.
Inyong esih krasa beruntung sebabe inyong dewek sing ngge-guyu awake dewek, dudu Wulan sing nggyu inyong. Umpamane mangsi  kue ora wutah kayane kelakon Wulan maca surat kue banjur dadi ngerti kabeh perasaane inyong sing esih terus tek simpen ning njero ati. Wulan mesti ngakak latahan ngguyu inyong, wong lanang sing wani nawakna penguripan ning masa depan sing terlalu sederhana.Urip sing sengsarane kaya kue.Bener-bener  konyol lan madan tolol. Ora mungkin Wulan gelem. Pancen ya mungkin bae Wulan gelem urip bareng inyong ning daerah terpencil asal inyong mampu tuku tiket pesawat saben bulan. Senajan inyong krasa nek Wulan banget nggateknane maring inyong, ningen inyong kudu ngendegna angen-angen sing mikirna Wulan. Kabeh rahasia ati kiye kudu tetep tek simpen,dadi duweku dewek selawase. Ora perlu crita. Wulan kena ngerti nek jane inyong demen kambi deweke.  Wulan aja nganti ngerti nek inyong wis bolak -balik gagal nulis surat cinta nggo deweke.
  Inyong nglogog ning beranda umah kos-kosan.Ndeleng langit penuh ding mega warna putih pada mlaku alon digered angin maring ngalor. Inyong eling, esih ana tugas mata kuliah praktikum minggu kiye laporane durung tuntas tek kerjakna. Waktune inyong sebagian wis ilang tek sia-sia, kur tek nggo ngalamuna prawan sing aran Wulan. Keyungyun maring bocah wadon jebule jan krasa repot nemen.Apa maning  inyong ngerasa pengarep-arep kue beda banget kambi kenyataan sing ana.  Inyong duwe rasa sir kambi Wulan,  ningen Wulan ora  mungkin ngerti sebab inyong wedi ngomongna utawa wei ngerti bab perasaan kiye.
Inyong pancen wis ngenal sapa Wulan. Inyong  ngerti Wulan kue keluargane sugih, sementara inyong kur mahasiswa biasa sing lair ning  keluarga guru.Bab kiye dadi ganjelan utama, inyong mendhem rasa cinta lan mungkesi kabeh angen-angen sing ana sambung rapete karo Wulan. Inyong ora wani ngabarna rasa cinta lan pengarep-arep maring  Wulan merga inyong kur mahasiswa calon guru. Padahal, nganti dina kiye uripe guru identik kambi kesederhanaan nek ora olih disebut kemiskinan.Kenyataan ning lapangan katon jelas nek dideleng sisi  finansial penguripane guru ning negara kiye esih banget kekurangane.Merga gajine guru ora mbejaji, dadi ora salah nek bapake Wulan mesti mikir ping pindho duwe mantu inyong. Wajar lan sah-sah bae bapake Wulan wedi anak prawane ora bahagia uripe nek dadi bojone inyong.Untung baen,surate inyong kesiram mangsi dadi nganti seprene Wulan ora ngerti nek inyong mendhem rasa tresna sing ora kira-kira.Mbuh arep tekan kapan,angel golih mbusek...
                                                                                                Ajibarang, Juni 2011