(BAGIAN I)
PRAKATA
Inilah kisah-kisah pendidikan dan pembelajaran di negeri para wayang. Adalah negeri Hastinapura, sebuah negeri yang tanahnya subur makmur dan kaya raya. Negeri yang penduduknya dikenal sangat sopan dan berakhlak mulia, senang bekerja keras dan memiliki solidaritas sosial yang tinggi. Negeri yang jauh dari bencana dan direstui oleh Illahi. Negeri yang tentram dan damai, mengalir di atas tanahnya sungai-sungai yang jernih, tegak gunung-gunung berapi yang bersahabat, membiru lautan luas yang mengelilingi pulau-pulaunya. Terhampar hutan hujan tropis yang sangat indah dengan berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang menghuninya. Hingga akhirnya menemukan sebuah titik yang mengawali segala kisah kekacauan dan pertumpahan darah. Semuanya berawal dari kesalahan dalam pola pendidikan yang meninggalkan nilai-nilai luhur kehidupan. Negeri ini mulai menemui kehancuran ketika yang diutamakan oleh para pemimpin dan generasi penerusnya adalah perebutan kekuasaan dan keserakahan terhadap harta.....
I.PADEPOKAN SOKALIMA
Mahaguru Dorna masih duduk di depan meja kerjanya. Beliau sedang menyiapkan sebuah makalah penting yang menyangkut masa depannya di negeri Hastinapura. Sejak kedatangannya dari negeri Atasangin di Hastinapura dan dinobatkan sebagai guru besar di Padepokan Sokalima, gaya hidupnya harus berubah. Tidak mungkin lagi bergaya sebagai pendekar pengembara yang bebas mengekspresikan dirinya secara liar. Sebagai orang yang dibayar untuk mendidik para pangeran Hastinapura, baik para Pandawa maupun Kurawa, dia terikat oleh aturan-aturan protokoler istana. Oleh karena itu Mahaguru Dorna menyadari bahwa dirinya perlu selalu dan terus-menerus meningkatkan kemampuan dirinya. Ayahanda Resi Baratwaja di Atasangin pasti akan sangat malu kalau Bambang Kumbayono yang sekarang bergelar Mahaguru Dorna tidak cakap dalam menurunkan ilmu kepada para pangeran Hastinapura.Demi bakti kepada ayahnya dan demi harga dirinya, Bambang Kumbayono berniat akan berbuat secara maksimal, konsisten, dan komitmen yang tinggi untuk mengembangkan Padepokan Sokalima menjadi sebuah pusat pendidikan di Hastinapura.
Masalah yang harus dipikirkan dan dirancang dengan baik adalah bagaimana cara mengajarkan semua ilmu yang dimilikinya kepada para kesatria Hastinapura. Semua ilmu yang dimilikinya harus disampaikan dengan cara yang benar, efektif dan efisien. Menyikapi hal ini Mahaguru Dorna harus mendapatkan banyak masukan dari para guru yang menggeluti berbagai disiplin ilmu. Langkah pertama, Mahaguru Dorna mengundang orang-orang cerdik pandai dari seluruh penjuru negeri Hastinapura. Mahaguru Dorna mengadakan saresehan, seminar dan workshop dengan para pakar dari berbagai disiplin ilmu. Semua itu dilakukan demi mendapatkan masukan untuk penyusunan kurikulum yang paling tepat bagi para ksatria Hastinapura. Dalam kesempatan itu hadir Resi Bisma, Penasehat Yamawidura, Begawan Abiyasa, Prabu Destarata, Ibu Permaisuri Gendari,Ibu Kunthi Nalibrata,Patih Harya Suman,dan Para Pendekar Besar lainnya dari seantero negeri Hastinapura. Pada kesempatan itu diundang juga pakar-pakar dari negeri-ngeri Wayang yang lain yang mempunyai hubungan diplomatik dengan Hastinapura. Hadir pula dalam acara itu Prabu Salya dari Mandaraka, Prabu Baladewa dari Mandura bersama Patih Pragota. Hadir juga Sri Kresna, Raja Dwarawati bersama Patih Udawa dan Raden Setyaki. Terlihat juga tokoh kawakan dari bukit Kendalisada, seekor kera putih yang bernama Begawan Hanoman.Tidak ketinggalan datang juga Kaki Semar,tokoh eksentrik dari kampung Watukumpul,pendamping setia para ksatria dari jaman ke jaman dalam sejarah negeri wayang.
Makalah yang berisi rancangan kurikulum disampaikan oleh tiga guru besar yaitu Resi Bisma, Begawan Abiyasa dan Mahaguru Dorna. Berbagai tanggapan berupa masukan yang menyempurnakan makalah ketiga guru besar tersebut dicermati betul dan dicatat dengan sangat teliti olih tim khusus yang bertugas sebagai para perumus kurikulum. Tim itu diketuai oleh Patih Harya Suman alias Patih Sengkuni. Secara garis besar Resi Bisma menyampaikan paparan bahwa kurikulum pendidikan bagi para ksatria Hastinapura harus mengutamakan masalah pendidikan moral dan akhlak mulia. Para ksatria utama itu harus mengedepankan keluhuran budi dan sikap yang mulia dalam setiap pengambilan keputusan.
Begawan Abiyasa menegaskan bahwa pendidikan yang penting untuk diberikan kepada para ksatria adalah masalah spiritual, keteguhan dalam meyakini dan melaksanakan kebenaran yang telah digariskan oleh Sang Hyang Widi. Para ksatria harus secara konsisten menjadi pelaku dan sekaligus penegak kebenaran agar kehidupan masyarakat di dunia wayang dapat berjalan secara tertib dan teratur, aman sejahtera serta dapat mencapai kemakmuran bersama secara adil dan merata. Pengembangan wawasan dan cara berpikir para ksatria calon pewaris negeri Hastinapura harus dilatih sedemikian rupa dengan berbagai laku dan tatacara yang lazim dalam tradisi luhur para wayang. Secara eksplisit Begawan Abiyasa menghendaki bahwa pendidikan di negeri Hastinapura harus mempunyai ciri ke-Hastinapura-an, walaupun padepokan Sokalima akan di pimpin oleh Mahaguru yang berasal dari negeri Atasangin. Pakar pendidikannya boleh saja orang asing, teori pembelajarannya boleh saja mengadopsi dari negara lain,tetapi harus tetap memiliki sistem yang mengakar pada kultur Hastinapura.
Makalah mahaguru Dorna sendiri tentu saja membahas tentang pentingnya ketrampilan olah kanuragan, olah senjata terutama memanah,tombak dan gada, ketrampilan naik kuda, penguasaan taktik dan gelar perang serta segala macam ilmu pengobatan dan kesaktian. Secara terbuka dan jujur, Mahaguru Dorna mengakui bahwa kepercayaan yang diberikan oleh Prabu Destarata mengangkatnya sebagai guru utama para Pandawa dan Kurawa bukan hal yang ringan. Menyadari beratnya tugas itu, Mahaguru Dorna minta dukungan sepenuhnya dari semua pihak. Walaupun Mahaguru Dorna telah menemukan teknik khusus dalam bidang memanah, yang disebut sebagai ilmu”Danurwenda” dan teknik bermain pedang yang di sebut ilmu”Sirwenda”, samasekali tidak menjadikannya sombong dan membanggakan diri. Mahaguru Dorna sadar bahwa banyak sekali kekurangan ada pada dirinya. Dalam bidang olah senjata gada tentu beliau tahu betapa piawainya Prabu Baladewa dengan gada Nengala andalannya atau Raden Setyaki dengan gada Wesi Kuningnya. Apalagi dalam hal menggunakan senjata Cakra, sampai saat ini di dunia wayang hanya ada satu pakar yang menguasai yaitu Sri Kresna. Masalah pengobatan dan olah tenaga dalam, tak ada yang meragukan keunggulan Begawan Hanoman, walaupun secara fisik hanya seekor kera putih. Sejarah telah membuktikan ketika semua kera buta karena racun yang ditebar oleh Sarpakenaka adik Raja Rahwana, Begawan Hanomanlah yang menyembuhkan. Dalam kisah Rama Tambak, Hanoman telah mengangkat gunung untuk membendung laut menuju Alengka, bukti bahwa tenaga dalamnya sangat tinggi. Sebagai anak asuh Dewa Bayu, Hanoman memang menguasai teknik pernapasan khusus pembangkit tenaga dalam tingkat tinggi. Dalam pertemuan ilmiah dengan berbagai pakar keilmuan, tentu saja Mahaguru Dorna harus sangat hati-hati membawa diri, jangan sampai menimbulkan kesan menyombongkan diri dengan ilmu panah dan ilmu pedangnya. Alih-alih mendapat dukungan, kalau tidak hati-hati justru akan mendapat tantangan bahkan mungkin ada yang ingin mencoba kepakarannya. Mahaguru Dorna tidak ingin hal itu terjadi. Sesungguhnya hal yang paling penting baginya adalah menjaga kepercayaan Raja untuk mendidik para Ksatria dan mendapat dukungan politis dari Patih Harya Suman. Sesungguhnya untuk tujuan inilah, saresehan , seminar dan workshop ini diselenggarakan. Mahaguru Dorna berharap bahwa pendirian Padepokan Sokalima secara moral mendapat dukungan dari para pakar yang hadir dalam acara yang di gelar itu.
Setelah melalui disksusi yang panjang dan cukup bertele-tele, acara-acara ngilmiah itu berakhir. Hasil kegiatan itu sudah berwujud sebagai bentuk draft kurikulum yang siap dimatangkan untuk diterapkan di Padepokan Sokalima. Tiga arus pemikiran dari para guru besar itu, menjadi landasan dan pilar utama kurikulum Padepokan Sokalima. Selanjutnya pada tingkatan teknis kurikulum tersebut dikembangkan oleh tim ahli yang diketuai oleh Patih Harya Suman. Sampai pada tingkatan ini, kebijakan politis Patih Harya Suman ikut mewarnai bentuk kurikulum Padepokan Sokalima. Salah satu kebijakan politis yang mewarnai kurikulum Padepokan Sokalimaa adalah adanya aturan bahwa proses pendidikan di Padepokan Sokalima hanya boleh diikuti para pangeran Hastinapura,anak para raja negeri lain dan para keturunan bangsawan atau orang yang mendapat ijin khusus. Lebih khusus lagi yang dijinkan belajar ilmu dari Mahaguru Dorna hanya para darah Bharata, yaitu lima ksatria Pandawa dan seratus orang anak Dewi Gendari atau yang dikenal sebagai para Kurawa.
Padepokan Sokalima adalah sebuah sekolah khusus yang bersifat eksklusif. Kegiatan pembelajaran memang dirancang dan dilakukan secara sistematis dengan bantuan para tenaga pengajar yang sudah terlatih dibawah koordinasi Mahaguru Dorna. Beaya pendidikan di sini tentu saja mahal. Semua fasilitas belajar serba mewah. Ruang belajar ber AC, media belajar serba istimewa, sumber bacaan sangat lengkap. Fasilitas olahraga juga sangat isimewa, semuanya serba terpenuhi. Untuk fasilitas olah kanuragan semua peralatan fitnes sudah dibangun sangat lengkap. Untuk berlatih naik kuda, ada istal yang berisi kuda-kuda pilihan. Komplek padepokan Sokalima sangat menawan dengan penataan taman dan gedung yang sangat indah, melebihi fasilitas sekolah RSBI yang ada di negara tetangga. Bila dilihat dari sisi manajemennya kelihatan bahwa padepokan Sokalima sangat mirip dengan RSBI, terutama dari sisi eksklusifnya. Belum jelas apakah negara tetangga yang mengadopsi pola Padepokan Sokalima atau Hastinapura yang mengadopsi pola RSBI negara tetangga. Konon kabarnya, di negara tetangga sekolah yang bertajuk RSBI hanya di peruntukkan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga yang kaya dan terpandang. Demikian halnya pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di Padepokan Sokalima. Sifatnya sangat eksklusif.
Mahaguru Dorna sangat puas dengan hasil dan strategi yang telah diterapkannya. Kerjasama yang dia buat dengan patih Harya Suman telah mengukuhkan kedudukan dirinya sebagai penguasa tunggal di Padepokan Sokalima. Restu dari pengampu kekuasaan di Hastinapura, Prabu Destarata telah didapatkan. Dana pendidikan pun mengalir deras dan lancar. Semua kebutuhan dan keperluan Padepokan asalkan ada proposal yang logis pasti segera mendapat persetujuan. Apalagi jika direkomendasikan oleh Patih Harya Sengkuni. Segala macam kemewahan hidup yang tidak pernah dirasakan oleh Mahaguru Dorna semasa menjadi pendekar pengembara kini telah didapatkan. Kendaraan yang bagus, makanan enak, baju indah, perempuan cantik, tempat tidur yang luks dan segala bentuk kenikmatan dunia yang diinginkan dapat di raihnya dengan segala kemudahan.Itu semua dia rasakan sebagai sebuah konsekuensi dari kepakarannya di bidang ilmu memanah dan ilmu bermain pedang.
Demikianlah, awalnya pembelajaran di Padepokan Sokalima terus berjalan dari hari ke hari dengan sangat tertib. Siswa utama yang terdiri dari seratus orang Kurawa dan lima orang Pandawa selalu mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik. Memang pada dasarnya mereka adalah para pelajar yang baik dan berkemauan keras. Sayang sekali, proses pembelajaran selanjutnya, yang terlalu di penuhi pesan dan kepentingan politis Patih Harya Suman telah merusak sebagian besar akhlak remaja Kurawa dan Pandawa. Kegiatan ekstrakurikuler yang berupa latihan main dadu dan adu ayam jantan serta minum tuak, telah melencengkan tujuan pendidikan yang digagas pada awal mula pendirian Padepokan Sokalima. Lebih parah lagi, dengan kemajuan teknologi internet yang diakses dari negeri Atasangin, para siswa juga dibiarkan melakukan browsing situs porno dari negeri-negeri lain. Termasuk kasus video porno bintang sinetron dan penyanyi kenamaan di negeri tetangga pun dapat di nikmati secara bebas di Padepokan Sokalima. Maka seiring bergulirnya sang waktu, struktur kurikulum yang sudah dirancang oleh para pakar pendidikan dunia wayang menjadi rusak karena kepentingan politik Patih Harya Suman dan kroni-kroninya. Kekacauan pola pembelajaran di Padepokan Sokalima itu melahirkan berbagai skandal yang cukup membuat rasa tidak nyaman bagi para pemerhati pendidikan di dunia wayang. Berbagai skandal yang terjadi menjadi kisah panjang yang terus berangkai hingga akhirnya menjadi timbunan dendam kesumat. Puncak dendam itu kelak memuncak pada saat terjadinya perang Bharata yudha. Banyak contoh skandal yang terjadi di Padepokan Sokalima seperti skandal penilaian, skandal pembocoran soal, skandal kelulusan dan bahkan pemalsuan ijasah. Mahaguru Dorna sudah terbuai oleh kenikmatan dunia dan kemakmuran yang melingkupinya. Idealismenya sebagai pendekar ternama di masa lalu sudah punah karena bergaul dengan politisi busuk seperti Patih Harya Suman. Ditambah oleh tuntutan anak tunggalnya yang begitu manja, Raden Aswatama, membuat Mahaguru Dorna semakin buta terhadap kebenaran dan tuli terhadap suara nurani..... (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar