II. BAMBANG EKALAYA
Bambang Ekalaya adalah seorang remaja, ksatria dari tanah negeri Rancang Kencana. Dia hanya seorang pangeran dari kerajaan kecil yang belum terkenal di kancah perbincangan dunia wayang. Para dalang pun hanya sesekali saja menyebut negeri tempat tinggal Bambang Ekalaya. Meskipun demikian, kemauan belajar Bambang Ekalaya sangat keras. Minatnya terhadap ilmu pengetahuan sangat tinggi. Sungguh, tokoh ini sangat pantas di jadikan contoh dalam hal berkeinginan untuk maju. Karena kecerdasan, kemauan keras dan ketekunan yang tinggi, Bambang Ekalaya mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan belajar ke luar negeri wayang. Beasiswa yang diberikan oleh perusahaan minyak dan gas itu sangat cukup bagi Bambang Ekalaya untuk melanjutkan belajarnya ke negeri manusia. Namun dengan segala kerendahan hati dan sikap yang sangat santun, Bambang Ekalaya menolak beasiswa itu.
Bambang Ekalaya menolak beasiswa belajar ke negeri tetangga itu karena dia memiliki alasan yang cukup kuat dan mendasar. Sebagai tokoh dunia wayang, dia sadar betul bahwa dirinya akan menemukan banyak kesulitan jika belajar di dunia manusia. Perilaku makhluk yang bernama manusia jelas sangat sulit dimengerti dan dipahami oleh dirinya sebagai wayang. Apalagi, walaupun hanya sebuah kerajaan kecil, dia tetaplah seorang Pangeran di dunia wayang. Negeri Rancang Kencana satu saat kelak pasti memerlukan kehadiran dirinya untuk menggantikan tahta ayahnya. Pertimbangan pertama itu membuat Bambang Ekalaya menyurutkan langkah untuk belajar ke negeri manusia yang jaraknya sesungguhnya tidak terlalu jauh dari negerinya. Setelah berdiskusi dengan ayahnya, Raja Negeri Rancang Kencana, alasan yang disampaikan Bambang Ekalaya dapat dimengerti dan bahkan dibenarkan.
Pertimbangan kedua adalah berita terbaru yang berhasil dia akses melalui situs internet. Berita dalam situs http://wayang.fb.com menyebutkan bahwa perusahaan minyak dan gas dari negara tetangga yang akan membiayai belajarnya itu kemungkinan akan mengalami kebangkrutan. Hal itu terjadi karena adanya ketidakberesan manajemen perusahaan sehingga hampir setiap tahun mengalami kerugian. Berita paling mencemaskan beberapa kilang minyak perusahaan itu terbakar dan menimbulkan berbagai masalah ikutannya. Bahkan konon Kahyangan Jonggring Salaka ikut terkena polusi sehingga Sang Hyang Jagat Girinata marah kemudian memberi tugas kepada Bathara Baruna untuk mengirimkan air lautnya dalam bentuk gelombang tsunami. Untung saja sebelum tugas itu dilaksanakan oleh Bathara Baruna, Sang Hyang Antaboga, pengendali gerak lempeng bumi mengambil alih tugas dan bersepakat bahwa sementara warning yang dikirim cukup gempa saja dulu, tidak usah bersama tsunami. Entah iya atau tidak, Bambang Ekalaya sendiri kurang tahu.Sebab tidak jarang berita yang tersebar di internet adalah hoak belaka. Walaupun begitu ada informasi yang penting bagi Bambang Ekalaya. Seandainya kebangkrutan perusahaan minyak dan gas itu benar, tentu dapat mengganggu keberlangsungan beasiswanya. Rasanya kurang bijak belajar ke negeri manusia dengan jaminan beasiswa dari perusahaan yang manajemen keuangannya kurang jelas dan selalu mengalami kerugian. Bambang Ekalaya tentu tidak mau sengsara di negeri manusia.
Pertimbangan ketiga yang juga memberatkan langkah Bambang Ekalaya adalah berita tentang kehidupan kaum muda di negeri manusia tetangganya itu. Generasi muda di sana konon dari hari ke hari semakin termakan oleh arus globalisasi dan memilih cara hidup hedonis sehingga kehilangan kepribadian. Akhir-akhir ini memang semakin santer beredar kabar kerusakan generasi muda di negara tetangga yang beberapa tahun belakangan baru saja melakukan reformasi. Konon di negara manusia itu, reformasi telah terhenti. Perhentian itu membentuk formasi baru yang jauh lebih sulit dipahami. Segala macam bentuk tipu menipu, rekayasa politik, laporan pertanggungjawaban kegiatan yang manipulatif adalah hal yang sangat biasa. Masalah korupsi bukan lagi rahasia bagi masyarakat di sana. Siapa yang paling kuat adalah yang berkuasa.
Di negeri itu konon hukum sudah lama kehilangan wajah kejujuran, ketegasan dan keadilannya. Orang-orang kaya dapat melakukan apa saja karena apa pun dan siapa pun dapat di beli. Sikap tertib, disiplin, kasih sayang,toleransi dan menghargai sesama, hanyalah mimpi yang dibawa tidur oleh segelintir penghuni negeri itu yang masih waras. Akhlak mulia dan budi pekerti luhur hanya tinggal dongeng yang hampir terlupakan. Para penjaga moral, budaya serta agama di negeri manusia itu sudah kehilangan energi karena habis untuk rebut balung tanpo isi.
Dalam situasi yang secara mental masyarakat sangat kacau itu, berbagai bencana terus datang silih berganti.Namun demikian isyarat alam itu hanya ditanggapi sambil lalu saja. Penanganan bencana dijadikan proyek oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki berbagai kepentingan pribadi atau kelompoknya.Ketika mekanisme perguliran rejeki di kalangan rakyat jelata begitu lambat beberapa cukong dan pejabat tega menumpuk harta dan melakukan berbagai pesta pora.Berita itu tentu sangat tidak menarik bagi Bambang Ekalaya yang jiwanya bersih dan cara berpikirnya masih waras.
Setelah merenung dalam-dalam sampailah Bambang Ekalaya pada kesimpulan langkah apa yang akan dilakukannya. Bambang Ekalaya, secara bulat menolak beasiswa untuk belajar ke luar negeri wayang, emoh belajar di negeri tetangga, negerinya para manusia.Dalam hati Bambang Ekalaya menjerit menahan pedih tak terkirakan.Dia berpikir dan melihat bahwa kerusakan yang ada semakin banyak di akhir jaman ini. Dirinya sadar bahwa dirinya hanya wayang dan tak mampu berbuat apa-apa. Hanya saja sebagai wayang dia merasa nelangsa melihat kondisi manusia saat ini. Wayang yang konon dibuat dan dikarang oleh manusia , sudah enggan mencontoh dan meneladani manusia.Bahkan tidak mau lagi berinteraksi dengan para manusia karena malu melihat perilaku manusia. Bahkan khawatir tertular kebejatan akhlak manusia. Sungguh sangat ironis. Sebuah ironi yang memilukan hati. Hati para satria dan calon pemimpin yang mau mencoba memahami makna kehidupan dengan lebih subtil sampai pada tingkatan kontemplasi. Bukan hati para raksasa dan danawa yang hanya mengedepankan angkara murka dan menghamba pada nafsu amarah.
Setelah yakin bahwa menolak beasiswa dari perusahaan minyak dan gas negeri manusia itu adalah keputusan yang tepat, dirinya harus membuat langkah yang baru. Langkah ini harus dia lakukan secara cermat agar tidak keliru dan membahayakan diri, keluarga terlebih penting lagi rakyat wayang di negeri Rancang Kencana. Demi menjaga hubungan baik dengan negeri manusia, karena khawatir negeri wayang akan dihancurkan, surat pengunduran sebagai calon penerima beasiswa dibuat dan dikirim kepada pemerintahan negeri tetangga (manusia). Alasannya tentu tidak diuraikan seperti yang Bambang Ekalaya pikirkan dan baca di situs internet. Dalam surat pengunduran diri itu disebutkan bahwa proses pergantian tahta di negerinya membutuhkan perhatian yang lebih fokus sehingga dengan sangat terpaksa belum bisa menerima tawaran beasiswa. Setelah surat itu dikirim dan mendapat jawaban yang baik,Bambang Ekalaya merasa tentram. Selanjutnya dia harus berpikir tentang kepentingan belajar bagi dirinya yang adalah calon raja bagi negeri Rancang Kencana. Sebagai seorang Pangeran yang kelak akan menggantikan raja di negerinya, Bambang Ekalaya tetap punya tanggungjawab untuk terus belajar menambah ilmu dan pengetahuannya.
Sebagaimana tradisi dalam dunia wayang, Bambang Ekalaya memutuskan untuk melakukan pengembaraan. Tujuannya mengembara adalah dalam rangka menambah wawasan. Dia akan mencermati fenomena alam dan fenomena sosial di dunia wayang. Dia berkelana dari desa kedesa,njajah deso milang kori, agar tahu persis bagaimana para rakyat jelata di desa-desa menjalani kehidupan. Pengembaraan itu akan terus dia lakukan sampai mendapatkan pencerahan.Dia akan menyamar menjadi pedagang dan masuk ke pasar-pasar tradisional. Dia ingin lebih memahami bahwa berdagang bagi rakyat kecil adalah sebentuk mekanisme jaringan kasihsayang, tidak sepenuhnya hanya transaksi finansial yang kapitalistik. Bambang Ekalaya menelusuri pantai demi pantai agar dapat melihat lebih dekat kehidupan para nelayan yang selama ini selalu memenuhi kebutuhan daging ikan bagi penduduk Kutharaja. Dia juga menyusuri sungai demi sungai dan areal pesawahan agar lebih paham bagaimana hidup para petani yang selama ini selalu dengan iklas menghasilkan beras dan menyediakan makanan pokok bagi para punggawa dan penduduk negeri ini. Kearifan seperti ini sungguh telah hilang bahkan dari dunia wayang.Kabarnya para ksatria besar di negeri-negeri wayang pun sudah banyak yang lupa dan tidak peduli lagi. Perbuatan seperti itu tidak produktif dan buang-buang waktu saja, demikian menurut kelompok yang mulai hilang kesadaran nuraninya.
Bambang Ekalaya juga masuk ke hutan rimba untuk menghayati pentingnya keberadaan hutan bagi keberlangsungan hidup di alam raya. Memahami dan menghayati mekanisme kehidupan dalam ekosistem hutan pasti menjadi kearifan yang sangat bermakna bagi kepemimpinannya kelak. Semua “bacaan” dari fenomena alam dan fenomena sosial yang dia temui dia catat pada lontar-lontar yang memang sudah dia siapkan dari istana. Dalam bentuk kumpulan lontar Bambang Ekalaya mencatat semua jurnal pengembaraannya. Dia meyakini betul bahwa bila tidak diikat dengan catatan, semua jenis ilmu akan dengan mudah terlepas seperti kuda tanpa tali kekang, dan itu merugikan. Setelah banyak membaca fenomena dalam kembaranya itu, ketertarikan Bambang Ekalaya terhadap pengetahuan semakin tinggi.Semakin banyak belajar dan membaca dia merasa semakin kurang pengetahuan yang telah dimilikinya. Ternyata lautan ilmu teramat luas. Setiap ujungnya bercabang dan bercabang lagi seperti pepohonan yang terus tumbuh.Tingginya ilmu menjulang ke langit mengangkat diri pencarinya ke tempat yang terhormat. Rindangnya ilmu menyebarkan amal kebajikan dan menyejukkan jiwa-jiwa yang haus ketentraman batin.
Suatu hari perjalanan Bambang Ekalaya sampai di perbatasan negeri Hastinapura.Dari perbincangan dengan penduduk di desa perbatasan itu, Bambang Ekalaya tahu bahwa di dekat ibukota kerajaan Hastinapura ada sebuah Padepokan yang ternama. Padepokan itu bernama Padepokan Sokalima dan dipimpin oleh seorang pendekar Bambang Kumbayana yang telah menjadi Mahaguru Dorna. Hal yang menarik bagi Bambang Ekalaya adalah bahwa perpustakaan di Padepokan Sokalima sangat lengkap. Di sana terdapat berbagai lontar lama yang berisi tentang berbagai ilmu yang ditulis oleh para pakar dari berbagai disiplin ilmu.Kabarnya di perpustakaan Padepokan Sokalima juga tersimpan kitab yang berisi ajaran Hasta brata, sebuah lontar yang ditulis pada jaman Sri Rama yang di peruntukkan bagi Raden Wibisana, pewaris tahta Alengka. Dalam kitab itu dijelaskan bagaimana seharusnya seorang raja memimpin negerinya.
Ah, sungguh berita yang berasal dari cerita penduduk ini sangat menarik bagi Bambang Ekalaya. Bergegaslah Bambang Ekalaya menuju ke Padepokan Sokalima, dengan harapan yang besar bahwa dirinya akan di terima menjadi salah satu siswa di Padepokan yang tersohor itu. Ada sepercik harapan, dengan berguru di Padepokan Sokalima, dirinya akan semakin mendapat pencerahan.Jurnal pengembaraan yang ada dikantung kulitnya akan lebih lengkap dengan salinan catatan dari perpustakaan Padepokan Sokalima.Hasratnya untuk segera menemukan mata air ilmu menyebabkan dirinya bergegas menuju ke sana.Dia lupa bagaimana kondisi dirinya saat ini. Dia tidak sadar bahwa penampilannya telah berubah jauh dari penampilan seorang Pangeran. Pakaiannya yang lusuh dan rambut yang tak terurus serta pipinya yang tirus,lebih mengesankan bahwa dirinya adalah rakyat kebanyakan yang miskin. Hal ini sama sekali tidak disadari oleh Bambang Ekalaya.
Dengan penampilan seperti itu,kehadiran Bambang Ekalaya di Padepokan Sokalima sama sekali tidak mendapatkan respon yang baik. Beberapa prajurit jaga di gerbang depan Padepokan segera menghardik dan mengusirnya. Hanya ada satu penjelasan bahwa Padepokan Sokalima berstatus PBIW(Padepokan Berstandar Internasional Wayang),sehingga tidak mungkin orang miskin seperti Bambang Ekalaya menjadi siswa di Padepokan Sokalima. Walaupun Bambang Ekalaya sudah menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang Pangeran dari negeri Rancang Kencana, tetapi bukti pendukung dirinya dianggap tidak sah. Maklum saja,saat berangkat pergi mengembara Bambang Ekalaya tidak membawa lencana kerajaan, tanpa kartu identitas.Dia juga tidak membawa handphone serta payahnya lagi, nomer telpon istana Rancang Kencana tidak bisa dihubungi.Sementara ilmu aji pameling yang mengandalkan komunikasi batin dengan ayahnya tidak bisa diterapkan. Frekuensi gelombang batinnya terhalang oleh gelombang aura kesaktian Mahaguru Dorna dan Padepokan Sokalima sehingga tidak bisa connect. Gagal menunjukkan jati dirinya, Bambang Ekalaya tidak diijinkan masuk ke dalam kawasan Padepokan.Dia diusir oleh prajurit yang berjaga di gerbang depan Padepokan.
Ada luka parah menyayat rasa. Ada pedih yang sedih.Ada rintih yang perih.Ada kecewa yang menggema.Hasrat untuk belajar telah terpenggal. Bambang Ekalaya sangat masygul hatinya. Biar bagaimanapun dia adalah seorang Pangeran, walaupun dari negeri yang kecil. Di tanah airnya dia biasa dihormati oleh semua orang. Seumur hidupnya sebagai wayang baru kali ini diusir seperti anjing kudisan. Dibentak-bentak oleh prajurit jaga tanpa melihat dirinya,setidaknya biarpun berpenampilan miskin toh masih sesama wayang.Ini betul-betul perlakuan yang tidak wayangwi (=manusiawi). Para prajurit jaga itu tidak tahu dengan siapa sesungguhnya mereka berhadapan. Mereka tidak tahu bahwa Bambang Ekalaya yang sekarang tampil lusuh adalah seorang wayang utama,”trahing kusumo rembesing madu”dari negeri Rancang Kencana. Ketika kebutuhan untuk dihargai sebagai wayang begitu memuncak dan mendesak batas logikanya, Bambang Ekalaya pun marah. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak dan dalam kondisi seperti ini, dia harus menunjukkan sikap yang tegas. Dia merasa perlu unjuk kemampuan agar wayang lain tahu siapa sesungguhnya dirinya.
Dalam terpaan badai amarah, Bambang Ekalaya sempat berpikir dan melakukan perhitungan. Itulah hasil dari pengembaraannya selama ini, selalu berusaha mengendalikan amarah dalam situasi sesulit apa pun. Sebagai satria dan pemimpin keputusan dan sikapnya harus selalu diambil dalam situasi pikiran yang terang, bukan dengan hati yang kebranang. Kalau dia akan melakukan pembalasan secara fisik terhadap prajurit jaga yang membentak-bentak dirinya, sesungguhnya sangat gampang. Hanya dalam hitungan beberapa jurus saja, dia yakin mampu melumpuhkan para prajurit itu. Kemampuan kanuragannya sebagai Pangeran Rancang Kencana juga cukup handal, jika dia mau memaksa masuk ke dalam Padepokan, sekali genjot dia pasti mampu melenting melompati tembok batas Padepokan.Tetapi pikirannya melarang, haruskah berbuat demikian? Apakah jika dia berlaku demikian akan mendukung tujuannya menjadi siswa Padepokan Sokalima? Apakah tidak justru memancing amarah para pendekar dan satria-satria lain di dalam Padepokan?Lebih parah lagi jika membuat Mahaguru Dorna tidak berkenan dan langsung menolaknya menjadi siswa. Jika hal itu yang terjadi, maka keinginan utamanya menjadi siswa Padepokan Sokalima akan semakin sulit. Pertimbangan akal sehatnya meredakan amarah dan membuatnya mengambil sebuah keputusan baru yang dia rasa akan lebih mendekatkan dirinya dengan tujuan semula datang ke Padepokan.
Bambang Ekalaya melangkah meninggalkan gerbang depan Padepokan menuju ke bawah pohon beringin yang tumbuh rindang di dekat jalan masuk menuju Padepokan. Setelah duduk di bawah pohon itu, Bambang Ekalaya segera mengambil lontar yang masih kosong dari dalam kantong kulitnya. Dengan ujung keris kecil yang tadinya terselip di gelung rambutnya, dia menulis sebuah surat untuk Mahaguru Dorna.Dengan bahasa yang sangat tertata dan mengedepankan sopan santun tinggi khas bangsawan wayang, Bambang Ekalaya menyampaikan maksud dan keinginannya menjadi siswa Mahaguru Dorna. Dalam surat itu,dia juga mengingatkan bahwa negeri Rancang Kencana bersahabat baik dengan negeri Atasangin, negeri asal Mahaguru Dorna. Bambang Ekalaya sangat berharap kedekatan sejarah masa lalu itu dapat membantunya untuk di terima sebagai siswa.
Setelah selesai menulis surat itu, Bambang Ekalaya kembali menuju ke gerbang Padepokan.Kepada prajurit jaga yang kebetulan sudah ganti wayang, dia menyampaikan maksudnya untuk menyampaikan surat kepada Mahaguru Dorna. Kali ini ternyata dua prajurit jaga yang baru lebih punya hati.Tanpa keberatan sedikitpun mereka bersedia membantu mengantarkan surat kepada Mahaguru Dorna. Bambang Ekalaya dipersilakn menunggu di pos penjagaan, dipersilakn duduk dilantai dan di beri minum air mineral. Bambang Ekalaya merasa bersyukur, nampaknya usaha kali ini mulai menampakkan hasil. Setidaknya surat yang ditulisnya bisa dia pastikan sampai ke tangan Mahaguru Dorna. Dengan sabar Bambang Ekalaya menunggu di pos penjagaan sambil menikmati minuman air mineral.
Getar hati yang mengirimkan gelombang harapan yang tulus tanpa rasa amarah dan harapan yang meletup-letup itu membawa hasil. Pada saat surat disampaikan, secara kebetulan Mahaguru Dorna dalam keadaan istirahat. Surat yang berbahasa sangat tertata itu segera di baca oleh Mahaguru Dorna. Hati sang Mahaguru pun terketuk, rasa bertaut. Selesai membaca surat, seketika itu juga Mahaguru Dorna mengutus prajurit jaga untuk menghadapkan si penulis surat yang mengaku bernama Bambang Ekalaya itu.Tidak dalam waktu lama,dua wayang calon guru dan siswa itu duduk berhadapan. Sebagai wayang yang kaya pengalaman, Mahaguru Dorna begitu memahami bagaimana harus bersikap kepada seorang Pangeran.Walaupun Bambang Ekalaya tidak mengenakan pakaian kerajaan, Mahaguru Dorna tahu dengan siapa beliau berhadapan.Segera mereka saling berkenalan dan Bambang Ekalaya menyampaikan keinginannya menjadi siswa di Padepokan Sokalima. Mahaguru Dorna pun mengerti dan berterimakasih Bambang Ekalaya bersedia menjadi siswanya.Persoalannya adalah Mahaguru Dorna sudah mengikat sumpah bahwa selain Pandawa dan Kurawa tidak akan diterima menjadi siswanya. Seorang Mahaguru tidak mungkin begitu saja mencabut sumpah yang sudah terucap.
Intinya, karena ikatan sumpah dan mungkin juga kepentingan politik, Bambang Ekalaya tidak bisa diterima menjadi siswa di Padepokan Sokalima. Sebagai obat kecewa, dan rasa hormat Mahaguru Dorna kepada Pengeran yang sama-sama berasal dari mancanegara, Bambang Ekalaya diijinkan mengaku guru kepada Mahaguru Dorna, walaupun Mahaguru Dorna belum mengakui bahwa Bambang Ekalaya siswanya. Selain itu Bambang Ekalaya juga diperbolehkan melihat kegiatan belajar siswa Padepokan Sokalima selama sehari. Kebetulan pelajaran hari itu adalah pelajaran memanah menggunakan teknik memanah ilmu”Danurwenda”. Ilmu ini adalah ilmu andalan Mahaguru Dorna dan sekaligus ilmu kebanggan Fakultas ilmu Senjata (FIS) Padepokan Sokalima. Setelah mengamati kegiatan belajar satu hari, Bambang Ekalaya di suruh pulang oleh Mahaguru Dorna. Itulah interaksi yang pernah terjadi antara Mahaguru Dorna dan Bambang Ekalaya. Belajar hanya dalam waktu satu hari, hanya diijinkan melihat kegiatan belajar memanah dari jauh. Apakah Bambang Ekalaya berhasil menguasai Ilmu memanah teknik”Danurwenda” yang dibanggakan oleh Padepokan Sokalima dengan cara seperti itu? Bagaimana kisah pencarian ilmu dan perjalanan Pangeran dari negeri Rancang Kencana ini? Apa yang terjadi di dalam kegiatan belajar mengajar di Padepokan Sokalima selanjutnya? (bersambung ke bagian tiga...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar