Apa yang bisa membuat remaja seperti diriku tenang menatap masa depan? Bila aku mengamati kehidupan saat ini yang aku rasakan hanya kekhawatiran. Masa depan terbayang semakin penuh persaingan. Jika aku tidak menyiapkan diri untuk bersaing --padahal aku merasa kurang mampu—tentu aku akan terpinggirkan dari kehidupan. Aku terkucil dan menjadi beban bagi kehidupan. Jangankan memberi warna dalam kancah pergaulan, bergaul pun rasanya aku tidak bisa. Aku sadar bahwa diriku sedang mengalami krisis percaya diri. Aku tumbuh menjadi remaja yang tidak bahagia. Aku minder karena aku terlahir dari sudut desa dan orang tuaku miskin.
Pekerjaan bapak hanya buruh penyadap getah pinus di hutan pinus dekat desaku. Penghasilan yang didapat oleh bapak tidak bisa dipastikan. Seringnya hanya cukup untuk membeli beras dan kebutuhan dapur emak. Dapat makan cukup selama satu bulan bagi bapak, emak, aku dan dua orang adikku adalah rejeki yang sangat besar. Itulah kondisi ekonomi keluargaku yang tinggal di sebuah desa tertinggal, di tepi hutan pinus milik KPH Banyumas barat.
Betapa pun aku sangat berkeinginan melanjutkan sekolah namun bila melihat kondisi ekonomi orang tua, keinginan dan cita-cita itu menjadi surut. Aku sadar bahwa seharusnya cita-cita mulia ini jangan sampai surut. Namun kenyataan yang ada, faktor ekonomi tidak memungkinkan bagiku melanjutkan pendidikanku. Aku menjadi sedih.Kontradiksi dalam hidupku menjadi semakin terasa menyakitkan ketika aku melihat nilai-nilai belajarku di buku raport. Setiap waktu pembagian raport tiba, aku pasti menduduki rangking pertama. Nilai rata-rataku selalu paling tinggi diantara teman-teman kelas pararel. Semua guruku mengenalku sebagai anak yang mendapat karunia kecerdasan dan kemudahan memahami pelajaran tapi miskin.
Aku belajar di SMP yang ada di desaku. SMP yang masih baru, berdiri ketika aku masih duduk di kelas V Sekolah Dasar. Aku murid angkatan ke dua. Kelas pararel angkatanku ada tiga kelas yaitu kelas A, B dan kelas C. Seluruh siswa di sekolahku saat itu ada sembilan kelas. Guru-guru yang mengajar di sekolahku semuanya masih muda dan energik. Para guru dengan sangat sungguh-sungguh membimbing belajar kami. Hari-hari belajar di sekolah terasa sangat indah dan menyenangkan bagiku.
Meskipun masih dalam wilayah satu desa, jarak antara rumahku yang berada di pinggiran hutan pinus dengan sekolah SMP tempatku belajar empat kilometer. Jarak itu harus kutempuh dengan jalan kaki karena tidak ada angkutan apapun. Jalan antara rumah dan sekolahku masih jalan setapak, tanah berbatu yang belum di aspal. Setiap pagi aku harus berjalan naik turun perbukitan hutan pinus dan sebagian perkebunan kayu milik rakyat. Melintasi beberapa sawah di perbukitan dan menyusuri tepian sungai kecil yang masih mengalirkan air sangat jernih. Perjalanan yang cukup jauh itu aku tempuh setiap hari, pagi dan siang bersama beberapa teman satu sekolah yang rumah tinggalnya bertetangga denganku. Jarak yang cukup jauh itu tidak menjadi masalah bagi kami, anak-anak desa yang sudah terbiasa berjalan kaki.
Saat ujian akhir di SMP dilaksanakan aku berusaha keras untuk tetap meraih nilai terbaik. Cita-cita itu tercapai. Nilaiku memang terbaik tetapi aku tetap tidak mungkin melanjutkan sekolah. Dua orang guruku, guru IPA dan guru Matematika yang masih muda, memberi tawaran padaku untuk masuk ke SMA di kota kecil yang jarakknya sekitar 20 kilometer dari desaku. Beliau berdua bersedia membantu biaya sekolahku asalkan aku mau bersungguh-sungguh melanjutkan belajarku. Aku sangat berminat dengan tawaran itu dan aku terharu terhadap perhatian yang sangat serius dari dua orang guruku itu. Namun, aku dengan sangat terpaksa tidak dapat memenuhi tawaran baik kedua guru itu. Ada alasan yang sangat jelas yang membuat bapak dan emak kurang setuju. Masalah uang sekolah dan uang saku mungkin memang bisa ditanggung oleh dua bapak guru yang baik itu, tetapi masalah transport yang harus ada setiap hari, bapakku tidak sanggup menanggungnya. Seandainya aku kos di dekat sekolah SMA di kota kecil itu, bapak juga tidak punya uang untuk sewa kamar dan biaya makan setiap bulan. Maka dengan sangat terpaksa dan rasa kecewa, tawaran dua bapak guruku aku tolak. Aku mencoba iklas untuk menghentikan sekolahku hanya sampai tingkat SMP saja.
Walaupun begitu aku sudah berjanji tidak akan pernah berhenti belajar. Tekadku untuk tetap terus belajar akan terus aku hidupkan dalam jiwaku. Aku yakin bahwa suatu saat aku dapat kesempatan untuk terus belajar, bagaimanapun caranya. Aku bahkan berharap bahwa kelak aku akan dapat memasuki sebuah perguruan tinggi dan aku menjadi seorang sarjana. Aku sangat yakin dengan bisikan hatiku. Masalahnya hanya aku harus bersabar saat ini, menunggu waktu datangnya kesempatan itu tiba. Cita-citaku tidak pernah patah.
Setamat dari SMP aku tidak punya kegiatan harian yang pasti seperti saat aku masih sekolah. Kegiatanku membantu bapak mengambil tempurung kelapa yang dipasang di pohon pinus untuk menampung getah hasil sadapan. Aku mengambil tempurung-tempurung yang sudah penuh dan menuangkannya ke dalam ember yang terbuat dari plastik. Bila isi ember itu semakin banyak aku tidak kuat lagi membawanya. Tubuhku yang berperawakan langsing tidak kuat bila harus mengangkat ember palstik wadah getah pinus yang berukuran 25 liter, apalagi medannya sangat sulit. Naik turun lereng bukit yang kemiringannya cukup tajam sambil membawa beban berat bukan pekerjaan yang mudah,apalagi bagi anak seusia diriku.Aku sering sedih menghadapi kesulitan ini.
Pohon-pohon pinus yang disadap getahnya oleh bapak, tumbuh di tanah- tanah miring, lereng perbukitan karang bercampur tanah merah.Kesulitan alam itu harus aku atasi dengan cara-cara yang harus aku pikirkan sendiri. Mengingat tubuhku yang masih remaja belasan tahun pastilah tidak cukup kuat menghadapi sulitnya medan. Aku mengumpulkan tempurung berisi getah pinus itu menggunakan wadah yang lebih kecil. Jika wadah yang kecil dan aku kuat membawanya sudah penuh baru kemudian aku tuangkan ke wadah penampung yang besar. Dengan cara ini aku tetap dapat membantu pekerjaan bapak mengumpulkan hasil sadapan getah pinus.
selamat
BalasHapus