Sebagai Adam aku mengembara
mencari ampunan dan belahan jiwa
sebagai Ibrahim aku mengamati fenomena
dan menggugat rahasia
yang melingkupiNya
sebagai Musa aku membebaskan diri
dari sihir dan berhala kuasa
sebagai Isa aku menaburkan cinta
belajar memaknai kemanusiaan
mengantarkan pada Muhamad sang teladan
sebagai sahabat aku ingin Abubakar yang berkata benar
atau Ali yang bertaruh nyawa
atau Umar yang menghunuskan pedang
atau Usman yang mendermakan harta
sebagai guru aku serupa Dorna
yang total mengajari Bima
sebagai siswa aku Arjuna
yang membidikan panah dengan jiwa
sebagai ayah aku adalah bapak
yang mencoba menularkan nafas
pada lelaki-lelaki kecilku
tentang hakekat makan dan minum
mensyukuri rejeki dari keringat sendiri
hidup sederhana dalam jaman yang penuh badai
arogansi ideologi dan budaya materialisme
sebagai kekasih akulah Bandung
selalu merindukan jonggrang
memprasastikan cinta dengan mahakarya
seribu candi dalam semalam
meski terdahului oleh surya
yang terpanggil kokok ayam pendusta
pernah juga
akulah pronocitro yang kalah dan tersisih oleh tangan kuasa
tapi tidak pernah mati sia-sia
sebab cinta mendut selalu ada
di setiap kunyahan kinang dan isapan kretek
di pasar-pasar kehidupan
sedang sebagai lelaki
aku sering terikurung sepi
dan hanya bisa menuliskan sunyi
di lembar yang tak berwarna
kanvas-kanvas lukisan
yang berserakan sepanjang jalan
sudah aku pasrahkan
sebab sebagai manusia
aku bukan siapa-siapa
bukan apa-apa
dan dalam segala sebagai yang kutemui
di setiap jalan yang kulalui
selalu aku inginkan Muhamad
sumber cahaya yang tak ada habisnya
dengan puisi kuungkapkan cintaku padanya
dengan kata-kata yang tak selalu kuucapkan
dan sebagai lelaki
aku tetap menulis puisi
mencari ampunan dan belahan jiwa
sebagai Ibrahim aku mengamati fenomena
dan menggugat rahasia
yang melingkupiNya
sebagai Musa aku membebaskan diri
dari sihir dan berhala kuasa
sebagai Isa aku menaburkan cinta
belajar memaknai kemanusiaan
mengantarkan pada Muhamad sang teladan
sebagai sahabat aku ingin Abubakar yang berkata benar
atau Ali yang bertaruh nyawa
atau Umar yang menghunuskan pedang
atau Usman yang mendermakan harta
sebagai guru aku serupa Dorna
yang total mengajari Bima
sebagai siswa aku Arjuna
yang membidikan panah dengan jiwa
sebagai ayah aku adalah bapak
yang mencoba menularkan nafas
pada lelaki-lelaki kecilku
tentang hakekat makan dan minum
mensyukuri rejeki dari keringat sendiri
hidup sederhana dalam jaman yang penuh badai
arogansi ideologi dan budaya materialisme
sebagai kekasih akulah Bandung
selalu merindukan jonggrang
memprasastikan cinta dengan mahakarya
seribu candi dalam semalam
meski terdahului oleh surya
yang terpanggil kokok ayam pendusta
pernah juga
akulah pronocitro yang kalah dan tersisih oleh tangan kuasa
tapi tidak pernah mati sia-sia
sebab cinta mendut selalu ada
di setiap kunyahan kinang dan isapan kretek
di pasar-pasar kehidupan
sedang sebagai lelaki
aku sering terikurung sepi
dan hanya bisa menuliskan sunyi
di lembar yang tak berwarna
kanvas-kanvas lukisan
yang berserakan sepanjang jalan
sudah aku pasrahkan
sebab sebagai manusia
aku bukan siapa-siapa
bukan apa-apa
dan dalam segala sebagai yang kutemui
di setiap jalan yang kulalui
selalu aku inginkan Muhamad
sumber cahaya yang tak ada habisnya
dengan puisi kuungkapkan cintaku padanya
dengan kata-kata yang tak selalu kuucapkan
dan sebagai lelaki
aku tetap menulis puisi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar